Kamis, 28 Maret 2013

Tentang Tepi Hati



Huh... jujur saya merasa begitu capek. Saya berusaha bersyukur, tapi tetap saja capek ini menggelitik hati saya. Saya berjuang tidak untuk menjadi orang yang hanya sebentar berjuang. Saya ingin berjuang, lagi dan lagi. Sedikit demi sedikit, kehidupan saya mulai berubah. Mulai dari tanggung jawab sebagai penerima beasiswa yang katanya paling banyak nominalnya, lalu kepercayaan yang dari teman-teman yang rasanya tiba-tiba, lalu pelajaran dan target nilai yang sudah saya tulis besar-besar, serta keinginan-keinginan lain yang semoga tidak berlebihan saya kejar.
Saya seperti ingin menduplikasi diri saya kemudian membagi tugas agar saya tetap fokus pada hal-hal yang sedang saya lakukan. Tapi, saya yang sudah tidak lagi kecil ini menyadari sepenuhnya bahwa itu tiada mungkin. Oh, keluh kesah dan rasa ini, begitu mengganggu diri saya. Sejenak saja, saya ingin mengambil nafas untuk kemudian menjalani semuanya lagi. Saya rindu pada kehangatan keluarga saya. Pada bapak dan ibu yang dulu setiap pagi selalu saya lihat, pada Dek Bagas yang setiap pagi, siang, dan malam bisa saya ganggu, pada Dek Iqbal yang selalu bilang "Mbak Cik.. Iqbal sayaaaaaang Mbak Cik", pada mbah kakung dan mbah putri, pada semuanya yang ada di rumah saya... Sebentar saja, saya sangat ingin berdiam diri dan lupa kalau saya punya tugas, kalau saya punya ambisi...eh.. jangan, kehidupan saya tidak statis, ia bergerak dan terus bergerak, dan saya tidak bisa cukup diam untuk mengejar kehidupan yang ritmenya semakin lama semakin cepat. Sejenak, saya butuh waktu untuk meluapkan keluh kesah ini, agar tidak mengendap di hati saya dan menjadi penyakit yang semakin lama semakin parah, untuk kemudian saya bangkit dengan energi baru yang lebih baik dari energi yang sebelumnya, seperti halnya laptop saya yang lowbatt dan akan kembali mau diberdayakan kembali setelah disuntik listrik untuk beberapa waktu.
Sekarang, seperti semut yang baru saja mengangkat remahan roti, memakannya lalu berjalan lagi, menemui teman-temannya dan bekerjasama lagi, itulah yang saya rasakan. Saya akan kembali menjadi saya yang saat ini, yang merasa lelah, tapi tidak mau berhenti. Akan saya biarkan rasa lelah ini menghinggai diri saya, bukan sebagai virus penghambat, tapi sebagai virus yang mengobati penyakit mengeluh saya, yang akan saya jadikan cambu untuk mempercepat langkah saya. Saya ingin menjadi diri yang menyenangkan, yang bisa mereka percaya, yang bisa memberi manfaat bagi semuanya yang ada di sekitar saya. Semangat Suci, banyak yang masih harus kamu lakukan, banyak yang masih harus kamu dedikasikan, bayak yang harus kamu bagikan dan perjuangkan. Langkah saya boleh tersandung oleh rasa lelah, tapi rasa lelahku tidak boleh membuat saya berhenti. Saya belum mau dan belum boleh menghentikan jalan saya. Jalan lagi, lari lagi, semangat lagi, selesaikan semuanya sebaik mungkin, sesegera mungkin. Tugas kuliah, tugas organisasi, tugas rumah, tugas sebagai hamba, tugas sebagai manusia. I Love My Live...I Love My World...
Goresan Abadi untukku sendiri:
Tepi hati, aku mencoba menggambarkan engkau, engkau yang menjadi serpihan dalam hidup singkat ini... Aku katakan padamu yang serasa lelah, yang serasa kosong, yang serasa palsu, yang serasa mengabur... Aku katakan padamu untuk tetap menjadi kuat, menjadi terisi, menjadi nyata, menjadi jelas..
Lalu kau akan ada disini, lagi, bersama kehadiran baru yang pasti menyenangkan
Kau akan ada disini, lalu yang belum disini akan menjadi disini...
Bersabarlah, tepi hatiku... karena kau milikku, kau harus semengabdi aku pula...
Maaf jika aku terlalu membuatmu lelah, tapi percayalah, setiap lelah pasti celah untuk bahagia ada...
Tepi hatiku sayang...tetaplah sehat, tetaplah menjadi tepi hati yang selalu hebat... sungguh aku bersyukur karena tepi hatiku ialah kau... bersabarlah, walau hingga waktu  yang tidak terbatas... kau bisa, aku bisa, kira bisa, wahai tepi hatiku sayang...:)
Cukup!!! Semangat lagi......Action now :D

__Fs. Nurani-Baiti Jannatii__

Tidak ada komentar:

Posting Komentar