Allah
menghidupkan ruh dalam diri manusia sebagai salah satu nikmat yang dianggap hak
dasar dan mutlak bagi setiap manusia. Namun, tak jarang manusia terlalu terlena
dengan nikmat yang telah Allah limpahkan tersebut. Banyak diantara kita yang
justru kepincut pada kehidupan dunia, berlari mengejarnya, dan melalaikan bahwa
ada kahidupan lain yang juga harus kita perjuangkan, yang akan membawa kita
kepada keabadian, yaitu kehidupan akhirat.
Dulu, saya rasa sulit untuk
memperjuangkan kehidupan di akhirat. Kita harus menjalankan perintahNyadan
menjauhi laranganNya. Kita harus amar ma’ruf nahi mungkar. Sederhana sebenarnya
kalimat itu, tapi dulu, bagi saya menjalankan perintahNya itu sulit. Harus jadi
orang dewasa dulu untuk berbuat baik, harus jadi orang yang pintar dulu untuk
beramar ma’ruf, harus jadi orang yang suci dulu untuk meninggalkan laranganNya,
harus jadi orang yang sholeh dulu untuk bernahi mungkar, namun ternyata
persepsi saya itu kurang tepat.
Suatu saat, ketika pelajaran Aqidah
Akhlak, guru saya bertanya kepada kami “Yaa Aulaadii... menurut kalian, jadi
orang baik sama jadi orang buruk gampang yang mana?”. Dan serempak kami
menjawab “Gampang jadi orang buruk Paaakk...”. lalu, dengan gaya beliau yang
khas, beliaupun berkata “Kata siapa...semua itu tergantung pada niatnya, kalau
kalian niatkan semua perbuatan baik kalian dengan niat ibadah, dengan niat
menggapa ridho Allah, maka insyaAllah, jadilah perbuatan kalian itu bernilai
pahala. Jadi, kalau kalian bilang lebih mudah menjadi orang buruk, patut
dipertanyakan itu niat kalian”... kami semua tertawa saat itu.
Terbukti, bahwa seringkali kesulitan
itu justru kita sendiri yang membuatnya. Kedangkalan ilmu kita pula yang
menyebabkan fikiran kita beranggapan seperti itu. kebaikan yang mudah dan jumlahnya berjuta-juta justru
mengerucut menjadi sedikit, sementara keburukan yang sulit dan beresiko
merugikan diri sendiri justru terlihat begitu banyak. Allah menyukai hal-hal
kecil namun konsisten daripada hal yang besar tapi jarang dilakukan. Mungkin,
kita sering mengidentikkan kebaikan dengan sedekah, infaq, puasa, wakaf, dan
perbuatan-perbuatan yang mengandung unsur harta, padahal hak kecil seperti
tersenyum ataupun menyingkirkan batu yang menghalangi jalanpun, jika niatnya baik,
juga menjadi kebaikan.
Seperti halnya tangisan bayi yang
bermakna banyak hal, setiap kejadian yang Allah tunjukkan pada setiap
makhluknyapun mempunyai banyak makna. Karenanya, tepat sekali jika dunia ini
diistiahkan sebagai universitas kehidupan, dan setiap manusia ialah pembelajar
yang ditugasi untuk menyingkap hikmah dari berbagai peristiwa. Mari belajar
hidup dengan hati, melihat dengan mata hati, merasakan dengan hati yang jujur,
mendengar dengan hati yang jernih, berjalan dengan hati yang tawadlu, bernafas
dengan hati yang penuh rasa syukur. Bukan manusia yang baik yang
diwajibkan untuk berbuat kebaikan, tapi
kewajiban untuk berbuat kebaikan akan
menjadikan orang menjadi baik, dan karena semua orang diciptakan dengan hati
yang suci, dengan menyimpan banyak kebaikan disana, maka semua orang tanpa
terkecuali mampu melakukannya. kullu nafsin dzaaiqotul maut, dan sebelum saat
itu datang, alangkah baiknya kita menjadi hambaNya yang bertaqwa, agar kita
kembali keharibaanNya sebagai hamba yang menempati tempat yang mulia
disisiNya... semangaaaaatt.... (^.^)/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar