1.Latar
Belakang
Hal yang menjadi latar belakang
aliran filsafat yang saya tulis ini adalah pendidikan awal yang diberikan oleh
orang tua serta keluarga saya, kemudian lingkungan pendidikan dan pergaulan
yang bertingkat, mulai dari saya RA, MI, MTs, dan MAN, serta beberapa bulan
saya di STAIN. Ketika usia saya 5 tahun,
saya sudah diwajibkan untuk menjalankan shalat lima waktu oleh kakek saya.
Semasa kecil, saya lebih dekat dengan kakek saya daripada dengan ibu saya atau
bapak saya. Hal tersebut dikarenakan kedua orangtua saya merantau di luar kota,
dan otomatis saya berada di bawah pengasuhan kakek saya. Jika saya tidak
melaksanakan shalat, atau jika shalat saya tidak sempurna lima waktu, beliau
akan mengajari saya mengaji hingga waktu isya terlepas. Hal tersebut
menyebabkan waktu tidur saya berkurang, dan apabila saya melaksanakan shalat
secara sempurna dan rutin lima waktu, nenek saya akan memasakkan telur mata
sapi yang sangat saya suka, walaupun tidak setiap hari.
Saya juga dekat dengan kakek buyut
saya. Beliau ialah sosok yang sangat memegang teguh tradisi, dan sangat
memperhatikan unggah-ungguh berbahasa. Beliau mendidik saya agar bisa
menggunakan unggah ungguh dalam pergaulan sehari-hari, maksudnya ketika dengan
oramg yamg lebih tua saya harus menghormati, dan ketika dengan yang lebih muda,
saya mengasihi.
Saya belajar dilingkungan yang
agamis. Pertama kali saya sekolah di RA (Raudlatul Athfal) Hidayatush Shibyan.
Saya mulai bersekolah sejak usia tiga tahun. Saya bukan orang yang aktif, saya
lebih suka duduk mendengarkan daripada harus bicara di depan teman-teman. Saya
tidak menyukai permainan yang membutuhkan kekuatan fisik. Saya lebih suka
bermain puzzle daripada bermain prosotan atau jungkat-jungkit. Namun, saya
dituntut untuk berubah ketika saya berada di kelas 3 MI. Pada saat itu, saya
menjadi ketua kelas yang harus memimpin teman-teman. Tuntutan tersebut membuat
saya lebih berani berbicara di hadapan orang lain. Dan saya lebih bisa belajar
tanggung jawab. Saya lebih aktif, tidak hanya duduk mendengarkan, tapi saya
juga berdiri di depan dan memimpin teman-teman, setidaknya setiap pagi saya
maju ke depan dan memimpin doa sebelum memulai pelajaran.
Hal tersebut ternyata berpengaruh
besar terhadap diri saya. Ketika MTs, saya lebih berani berbicara dan
bersosialisasi dengan orang lain. Saya mempunyai banyak teman dan dikenal oleh
guru-guru saya. Ketika kelas VII, saya ditunjuk untuk menjadi sekretaris OSIS,
dan ketika kelas VIII, saya menjadi ketua OSIS di MTs. Ketika itu, saya
bertugas menjadi jembatan antara guru dan murid, sehingga saya kerap bertukar
fikiran dengan guru-guru saya.
Saya ingat kejadian yang menjadi titk balik
pemikiran saya tentang kerjasama. Kejadian itu terjadi saat saya kelas IX.
Ketika ujian nasional berlangsung, demi mencapai prosentase kelulusan yang
sempurna, guru-guru saya memanggil saya dan beberapa teman saya yang
dinilaimempunyai kemampuan yang lebih untuk menjadi ‘agen penyelamat’ bagi
teman-teman yang dinilai kurang mampu. Pada saat itu, saya bersedia saja untuk
memberikan perasan otak berupa jawaban saya kepada teman-teman saya. Kami
diatur posisi duduknya sedemikian rupa agar kami bisa ‘bekerjasama’ dengan
baik. Dan rencana bapak ibu guru saya cukup berhasil. dari target 100%
kelulusan, yang dicapai ialah 98,67 %. Hanya satu siswa yang tidak lulus. Dan
ketika nilai hasil ujian di umumkan, saya amat tercekat, karena nilai ujian IPA
saya lebih rendah dibandingkan dengan nilai ujian teman saya yang hanya
mengandalkan contekan. Sontak, sayapun kecewa pada saat itu. dan saya berjanji
pada diri saya sendiri untuk tidak lagi ‘bekerja sama’ dengan cara yang sama.
Ada
sosok guru yang mengubah cara pandang saya terhadap nilai dan kehidupan.
Sebelum saya mengenal sang guru ini, saya sangat mementingkan nilai akademis dan
menganggap bahwa intelegensi seseoran diukur dengan banyaknya nilai akhir yang
diperolehnya. Pemikiran tersebut membuat saya sangat getol mencari nilai yang
bagus, setidaknya lebih dari 8. Saya terbawa anggapan yang tidak mementingkan
proses. Yang penting nilai saya bagus, dan peringkat sayapun juga baik. Tapi
saya tidak sampai hati jika harus mencontek. Cara yang saya lakukan ialah
memforsir tenaga dan pikiran saya pada
saat ujian hendak berlangsung. Saya kerap kali menghafal lembaran materi
hingga larut malam. Ketika test hendak dilangsungkan, saya hanya tidur 3-4 jam
gara-gara menghafal materi. Pada saat test berlangsung, saya memang bisa
mengerjakan karena materi tersebut masih tersimpan dalam otak saya. Tapi,
beberapa jam setelah test berlangsung, memori materi tersebut sudah hilang
begitu saja. Sosok yang mengubah kebiasaan saya itu ialah Ibu Amel. Beliau guru
ekonomi di MAN. Beliau menanamkan pikiran yang bebas kepada siswanya. Beliau
tidak mengikat pelajaran hanya dengan materi ekonomi saja. Beliau lebih sering
mengajarkan kami untuk berfikir kritis terhadap situasi yang ada di sekitar
kami. Di kelas, beliau kerap mengkritisi kebijakan sekolah yang mengikat kami
sebagai siswanya. Beliau lebih menghargai hasil buruk dengan proses yang baik
daripada hasil yang baik, namun prosesnya buruk. Sebelum test, ketika saya dan
teman-teman meninta kisi-kisi, beliau selalu berkata : pelajarilah apa yang
ingin kalian pelajari, yang penting tuangkan pengetahuan kalian secara jujur di
lembar jawaban, saya akan memberi nilai sesuai yang kalian minta. Beliau juga
selalu bilang bahwa universitas sesungguhnya yang harus menjadi tempat belajar
bukanlah sekolah ataupun lembaga pendidikan yang formal, namun universitas
kehidupan yang keras dengan segala rintangan dan keterjalannya. Itulah yang
menjadi motivasi saya untuk menjadi pribadi yang kuat supaya bisa meluluskan
diri dengan bak dari universitas kehidupan ini.
Pikiran saya lebih bebas dari
pikiran saya dimasa lalu ini membuat saya ingin menjadi seorang penulis. Bagi
saya, menjadi seorang penulis adalah salah satu jalan untuk membuka pikiran
orang-orang yang berpikiran sempit dengan tulisan-tulisan yang bertumpu pada
pelajaran yang saya dapat dari universitas kehidupan yang ilmunya tidak
terbatas ini. Selain itu, saya juga ingin dilihat oleh dunia dengan
tulisan-tulisan saya. Saya selalu ingat perkataan Pramudya Ananta Toer bahwa –
jika Anda ingin melihat dunia maka membacalah, tapi jika Anda ingin dilihat
dunia, maka menulislah –.
2.
Pembahasan
Dari
uraian latar belakang tersebut, aliran filsafat yang sesuai dengan diri saya
ialah realisme. Realisme lahir sebagai penerus tradisi seni kritis, yang
terutama merupakan bentuk baru dari tradisi realisme yang berkembang di Eropa. Dalam pemikiran filsafat, realisme berpandangan
bahwa kenyataan tidaklah terbatas pada pengalaman inderawi ataupun gagasan yang
tebangun dari dalam.saya setuju dengan kalimat tersebut karena bagi saya
inderawi saja tidak cukup untuk membatasi kenyataan. Inderawi mempunyai potensi
kesalahan yang besar jika menafsirkan tentang kenyataan. Penilaian inderawi
hanya terbatas pada penilaian yang tampak saja, sementara seringkali yang
tampak bukanlah yang sebenarnya. Untuk menemukan kebenaran yang benar-benar
nyata, kita juga harus menggunakan gagasan dari dalam diri untuk memperkuat
inderawi agar penlaian lebih valid, menggunakan gagasan dari dalam ini tidak
semata-mata menilai kenyataan hanya dengan hanya berdasarkan gagasan dari dalam
saja, namun mengkombinasikan kedua hal tersebut, yakni penilaian secara inderawi
dan menggunakan gagasan dari dalam untuk menilai sebuah kenyataan.
Salah satu penganut aliran
filsafat realisme ini ialah tokoh legenda satra yang sangat saya kagumi, yaitu
Pramudya Ananta Toer. Dalam definisi Pramoedya, Realisme merupakan metode yang
meneruskan filsafat materialisme dalam karya sastra serta meneruskan pandangan
sosialisme-ilmiah. Dalam novel sejarahnya, Pramoedya juga menampilkan tokoh
orang-orang biasa (meski dalam Arok Dedes, Pramoedya datang dengan pahlawan
istana). Sejarah dilihat secara totalitas dalam Tetralogi Buru, misalnya.
Sebelumnya,
sejarah dipandang sebagai suatu gerak yang tetap, mutlak, dan alamiah.
Perkembangan selanjutnya dari cara pandang ini adalah munculnya pemahaman baru
mengenai sejarah. Sejarah mulai dipandang sebagai perubahan yang justru
tergantung kepada diri manusia itu sendiri.
Seperti awal
kelahirannya, masuknya realisme sosialis ke Indonesia tidak pernah diketahui
secara pasti kapan pula waktunya. Sekitar tahun 1950-an, beberapa seniman kiri
menemui Nyoto untuk menyatakan peranan seni dalam perjuangan kelas. Nyoto
sendiri dalam pidato sambutan pendirian Lekra yang berjudul Revolusi adalah Api
Kembang menyatakan bahwa hanya ada dua pertentangan antara dua asas besar,
yakni kebudayaan rakyat dan kebudayaan bukan rakyat, dan tak ada jalan ketiga.
Dan baginya, tak mungkin kebudayaan rakyat bisa berkibar tanpa merobek
kebudayaan bukan rakyat.
Ide-ide kaum
realis seperti ini sangatlah kontributif pada abad 19 dalam menjembatani antara
ilmu alam dan humaniora, terutama dalam konteks perdebatan antara klaim-klaim
kebenaran dan metodologi yang disebut sebagai ‘methodenstreit’ (Calhoun,
2002). Kontribusi lain dari tradisi realisme adalah sumbangannya terhadap
filsafat kontemporer ilmu pengetahuan, terutama melalui karya Roy Bashkar,
dalam memberikan argument-argument terhadap status ilmu pengetahuan spekulatif
yang diklaim oleh tradisi empirisme.
3.
Kesimpulan
Dari uraian di atas, dapat saya
simpulkan bahwa aliran realisme yang berpendapat bahwa kenyataan tidaklah terbatas pada pengalaman
inderawi ataupun gagasan yang tebangun dari dalamsesuai dengan diri saya, dan
saya mengimplementasikannya dalam kehidupan saya. Saya tidak membatasi
penilaian kemampuan orang lain hanya dari nilai akademik yang tertera di ijazahnya
saja, namun juga moral dan cara berfikir mereka. Saya tidak membatasi
pengetahuan hanya dari buku-buku yang berjejer rapi di perpustakaan saja, namun
juga dari universitas kehidupan yang menyajikan ilmu yang lebih komplit dan
pasti akan diterapkan dalam kehidupan yang lebih dewasa nanti. Dalam menilai kenyataan. Saya berusaha
menggunakan dua sudut pandang, tidak hanya memandang secara inderawi yang
cenderung terbatas pada pandangan fisik saja, namun juga memperkuat pandangan
inderawi saya itu dengan gagasan dari dalam diri.
Saat ini, saya mempunyai semangat
belajar yang lebih, berkali-kali libat lebih banyak daripada di masa yang lalu.
Dulu, saya membatasi diri saya untuk belajar pada ilmu yang diajarkan sebagai
materi pelajaran, yang dijadikan sebagai tolak ukur intelegensi seseorang,
nemun kini saya senang belajar mengenai banyak hal baru yang dan tidak
membatasinya. Saya sekarang akan mempelajari apa yang saya ingin tahu tanpa
saya memilih-milih apakah itu perlu atau tidak untuk saya pelajari. Sebagai
penutup kesimpulan dalam makalah ini, saya kembali mengutip perkataan dari
seorang legenda sastra Indonesia, yaitu Pramudya Ananta Toer bahwa – jika Anda
ingin melihat dunia, maka menulislah dan jika Anda ingin dilihat dunia, maka
menulislah -- , dan dalam menulis, kita hendanya mengobservasi bahan tulisan
dari berbagai sisi, tidak hanya menggunakan penilaian secara inderawi semata,
ataupun hanya menggunakan gagasan dari dalam diri, namun mengkombinasikan kedua
gagasan tersebut agar kenyataan yang benar-benar kenyataan bisa terlihat secara
benar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar