Senin, 11 Maret 2013

FILSAFAT SAYA



1.Latar Belakang
            Hal yang menjadi latar belakang aliran filsafat yang saya tulis ini adalah pendidikan awal yang diberikan oleh orang tua serta keluarga saya, kemudian lingkungan pendidikan dan pergaulan yang bertingkat, mulai dari saya RA, MI, MTs, dan MAN, serta beberapa bulan saya di STAIN.  Ketika usia saya 5 tahun, saya sudah diwajibkan untuk menjalankan shalat lima waktu oleh kakek saya. Semasa kecil, saya lebih dekat dengan kakek saya daripada dengan ibu saya atau bapak saya. Hal tersebut dikarenakan kedua orangtua saya merantau di luar kota, dan otomatis saya berada di bawah pengasuhan kakek saya. Jika saya tidak melaksanakan shalat, atau jika shalat saya tidak sempurna lima waktu, beliau akan mengajari saya mengaji hingga waktu isya terlepas. Hal tersebut menyebabkan waktu tidur saya berkurang, dan apabila saya melaksanakan shalat secara sempurna dan rutin lima waktu, nenek saya akan memasakkan telur mata sapi yang sangat saya suka, walaupun tidak setiap hari.
            Saya juga dekat dengan kakek buyut saya. Beliau ialah sosok yang sangat memegang teguh tradisi, dan sangat memperhatikan unggah-ungguh berbahasa. Beliau mendidik saya agar bisa menggunakan unggah ungguh dalam pergaulan sehari-hari, maksudnya ketika dengan oramg yamg lebih tua saya harus menghormati, dan ketika dengan yang lebih muda, saya mengasihi.
            Saya belajar dilingkungan yang agamis. Pertama kali saya sekolah di RA (Raudlatul Athfal) Hidayatush Shibyan. Saya mulai bersekolah sejak usia tiga tahun. Saya bukan orang yang aktif, saya lebih suka duduk mendengarkan daripada harus bicara di depan teman-teman. Saya tidak menyukai permainan yang membutuhkan kekuatan fisik. Saya lebih suka bermain puzzle daripada bermain prosotan atau jungkat-jungkit. Namun, saya dituntut untuk berubah ketika saya berada di kelas 3 MI. Pada saat itu, saya menjadi ketua kelas yang harus memimpin teman-teman. Tuntutan tersebut membuat saya lebih berani berbicara di hadapan orang lain. Dan saya lebih bisa belajar tanggung jawab. Saya lebih aktif, tidak hanya duduk mendengarkan, tapi saya juga berdiri di depan dan memimpin teman-teman, setidaknya setiap pagi saya maju ke depan dan memimpin doa sebelum memulai pelajaran.
            Hal tersebut ternyata berpengaruh besar terhadap diri saya. Ketika MTs, saya lebih berani berbicara dan bersosialisasi dengan orang lain. Saya mempunyai banyak teman dan dikenal oleh guru-guru saya. Ketika kelas VII, saya ditunjuk untuk menjadi sekretaris OSIS, dan ketika kelas VIII, saya menjadi ketua OSIS di MTs. Ketika itu, saya bertugas menjadi jembatan antara guru dan murid, sehingga saya kerap bertukar fikiran dengan guru-guru saya.
 Saya ingat kejadian yang menjadi titk balik pemikiran saya tentang kerjasama. Kejadian itu terjadi saat saya kelas IX. Ketika ujian nasional berlangsung, demi mencapai prosentase kelulusan yang sempurna, guru-guru saya memanggil saya dan beberapa teman saya yang dinilaimempunyai kemampuan yang lebih untuk menjadi ‘agen penyelamat’ bagi teman-teman yang dinilai kurang mampu. Pada saat itu, saya bersedia saja untuk memberikan perasan otak berupa jawaban saya kepada teman-teman saya. Kami diatur posisi duduknya sedemikian rupa agar kami bisa ‘bekerjasama’ dengan baik. Dan rencana bapak ibu guru saya cukup berhasil. dari target 100% kelulusan, yang dicapai ialah 98,67 %. Hanya satu siswa yang tidak lulus. Dan ketika nilai hasil ujian di umumkan, saya amat tercekat, karena nilai ujian IPA saya lebih rendah dibandingkan dengan nilai ujian teman saya yang hanya mengandalkan contekan. Sontak, sayapun kecewa pada saat itu. dan saya berjanji pada diri saya sendiri untuk tidak lagi ‘bekerja sama’ dengan cara yang sama.
Ada sosok guru yang mengubah cara pandang saya terhadap nilai dan kehidupan. Sebelum saya mengenal sang guru ini, saya sangat mementingkan nilai akademis dan menganggap bahwa intelegensi seseoran diukur dengan banyaknya nilai akhir yang diperolehnya. Pemikiran tersebut membuat saya sangat getol mencari nilai yang bagus, setidaknya lebih dari 8. Saya terbawa anggapan yang tidak mementingkan proses. Yang penting nilai saya bagus, dan peringkat sayapun juga baik. Tapi saya tidak sampai hati jika harus mencontek. Cara yang saya lakukan ialah memforsir tenaga dan pikiran saya pada  saat ujian hendak berlangsung. Saya kerap kali menghafal lembaran materi hingga larut malam. Ketika test hendak dilangsungkan, saya hanya tidur 3-4 jam gara-gara menghafal materi. Pada saat test berlangsung, saya memang bisa mengerjakan karena materi tersebut masih tersimpan dalam otak saya. Tapi, beberapa jam setelah test berlangsung, memori materi tersebut sudah hilang begitu saja. Sosok yang mengubah kebiasaan saya itu ialah Ibu Amel. Beliau guru ekonomi di MAN. Beliau menanamkan pikiran yang bebas kepada siswanya. Beliau tidak mengikat pelajaran hanya dengan materi ekonomi saja. Beliau lebih sering mengajarkan kami untuk berfikir kritis terhadap situasi yang ada di sekitar kami. Di kelas, beliau kerap mengkritisi kebijakan sekolah yang mengikat kami sebagai siswanya. Beliau lebih menghargai hasil buruk dengan proses yang baik daripada hasil yang baik, namun prosesnya buruk. Sebelum test, ketika saya dan teman-teman meninta kisi-kisi, beliau selalu berkata : pelajarilah apa yang ingin kalian pelajari, yang penting tuangkan pengetahuan kalian secara jujur di lembar jawaban, saya akan memberi nilai sesuai yang kalian minta. Beliau juga selalu bilang bahwa universitas sesungguhnya yang harus menjadi tempat belajar bukanlah sekolah ataupun lembaga pendidikan yang formal, namun universitas kehidupan yang keras dengan segala rintangan dan keterjalannya. Itulah yang menjadi motivasi saya untuk menjadi pribadi yang kuat supaya bisa meluluskan diri dengan bak dari universitas kehidupan ini.
            Pikiran saya lebih bebas dari pikiran saya dimasa lalu ini membuat saya ingin menjadi seorang penulis. Bagi saya, menjadi seorang penulis adalah salah satu jalan untuk membuka pikiran orang-orang yang berpikiran sempit dengan tulisan-tulisan yang bertumpu pada pelajaran yang saya dapat dari universitas kehidupan yang ilmunya tidak terbatas ini. Selain itu, saya juga ingin dilihat oleh dunia dengan tulisan-tulisan saya. Saya selalu ingat perkataan Pramudya Ananta Toer bahwa – jika Anda ingin melihat dunia maka membacalah, tapi jika Anda ingin dilihat dunia, maka menulislah –.
2. Pembahasan
Dari uraian latar belakang tersebut, aliran filsafat yang sesuai dengan diri saya ialah realisme. Realisme lahir sebagai penerus tradisi seni kritis, yang terutama merupakan bentuk baru dari tradisi realisme yang berkembang di Eropa.  Dalam pemikiran filsafat, realisme berpandangan bahwa kenyataan tidaklah terbatas pada pengalaman inderawi ataupun gagasan yang tebangun dari dalam.saya setuju dengan kalimat tersebut karena bagi saya inderawi saja tidak cukup untuk membatasi kenyataan. Inderawi mempunyai potensi kesalahan yang besar jika menafsirkan tentang kenyataan. Penilaian inderawi hanya terbatas pada penilaian yang tampak saja, sementara seringkali yang tampak bukanlah yang sebenarnya. Untuk menemukan kebenaran yang benar-benar nyata, kita juga harus menggunakan gagasan dari dalam diri untuk memperkuat inderawi agar penlaian lebih valid, menggunakan gagasan dari dalam ini tidak semata-mata menilai kenyataan hanya dengan hanya berdasarkan gagasan dari dalam saja, namun mengkombinasikan kedua hal tersebut, yakni penilaian secara inderawi dan menggunakan gagasan dari dalam untuk menilai sebuah kenyataan.
Salah satu penganut aliran filsafat realisme ini ialah tokoh legenda satra yang sangat saya kagumi, yaitu Pramudya Ananta Toer. Dalam definisi Pramoedya, Realisme merupakan metode yang meneruskan filsafat materialisme dalam karya sastra serta meneruskan pandangan sosialisme-ilmiah. Dalam novel sejarahnya, Pramoedya juga menampilkan tokoh orang-orang biasa (meski dalam Arok Dedes, Pramoedya datang dengan pahlawan istana). Sejarah dilihat secara totalitas dalam Tetralogi Buru, misalnya.
Sebelumnya, sejarah dipandang sebagai suatu gerak yang tetap, mutlak, dan alamiah. Perkembangan selanjutnya dari cara pandang ini adalah munculnya pemahaman baru mengenai sejarah. Sejarah mulai dipandang sebagai perubahan yang justru tergantung kepada diri manusia itu sendiri.
Seperti awal kelahirannya, masuknya realisme sosialis ke Indonesia tidak pernah diketahui secara pasti kapan pula waktunya. Sekitar tahun 1950-an, beberapa seniman kiri menemui Nyoto untuk menyatakan peranan seni dalam perjuangan kelas. Nyoto sendiri dalam pidato sambutan pendirian Lekra yang berjudul Revolusi adalah Api Kembang menyatakan bahwa hanya ada dua pertentangan antara dua asas besar, yakni kebudayaan rakyat dan kebudayaan bukan rakyat, dan tak ada jalan ketiga. Dan baginya, tak mungkin kebudayaan rakyat bisa berkibar tanpa merobek kebudayaan bukan rakyat.
Ide-ide kaum realis seperti ini sangatlah kontributif pada abad 19 dalam menjembatani antara ilmu alam dan humaniora, terutama dalam konteks perdebatan antara klaim-klaim kebenaran dan metodologi yang disebut sebagai ‘methodenstreit’ (Calhoun, 2002).  Kontribusi lain dari tradisi realisme adalah sumbangannya terhadap filsafat kontemporer ilmu pengetahuan, terutama melalui karya Roy Bashkar, dalam memberikan argument-argument terhadap status ilmu pengetahuan spekulatif yang diklaim oleh tradisi empirisme.
3. Kesimpulan
            Dari uraian di atas, dapat saya simpulkan bahwa aliran realisme yang berpendapat bahwa  kenyataan tidaklah terbatas pada pengalaman inderawi ataupun gagasan yang tebangun dari dalamsesuai dengan diri saya, dan saya mengimplementasikannya dalam kehidupan saya. Saya tidak membatasi penilaian kemampuan orang lain hanya dari nilai akademik yang tertera di ijazahnya saja, namun juga moral dan cara berfikir mereka. Saya tidak membatasi pengetahuan hanya dari buku-buku yang berjejer rapi di perpustakaan saja, namun juga dari universitas kehidupan yang menyajikan ilmu yang lebih komplit dan pasti akan diterapkan dalam kehidupan yang lebih dewasa nanti.  Dalam menilai kenyataan. Saya berusaha menggunakan dua sudut pandang, tidak hanya memandang secara inderawi yang cenderung terbatas pada pandangan fisik saja, namun juga memperkuat pandangan inderawi saya itu dengan gagasan dari dalam diri.
            Saat ini, saya mempunyai semangat belajar yang lebih, berkali-kali libat lebih banyak daripada di masa yang lalu. Dulu, saya membatasi diri saya untuk belajar pada ilmu yang diajarkan sebagai materi pelajaran, yang dijadikan sebagai tolak ukur intelegensi seseorang, nemun kini saya senang belajar mengenai banyak hal baru yang dan tidak membatasinya. Saya sekarang akan mempelajari apa yang saya ingin tahu tanpa saya memilih-milih apakah itu perlu atau tidak untuk saya pelajari. Sebagai penutup kesimpulan dalam makalah ini, saya kembali mengutip perkataan dari seorang legenda sastra Indonesia, yaitu Pramudya Ananta Toer bahwa – jika Anda ingin melihat dunia, maka menulislah dan jika Anda ingin dilihat dunia, maka menulislah -- , dan dalam menulis, kita hendanya mengobservasi bahan tulisan dari berbagai sisi, tidak hanya menggunakan penilaian secara inderawi semata, ataupun hanya menggunakan gagasan dari dalam diri, namun mengkombinasikan kedua gagasan tersebut agar kenyataan yang benar-benar kenyataan bisa terlihat secara benar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar