Aku sedang menempuh jalanku ketika itu, menempuh jalan
dengan beban yang terpikul di pundakku. Terkelabuhi dengan iming-iming angka
palsu yang katanya ajaib bisa menentukan masa depan. Aku yang ketika itu
ambisius pernah terperosok ke jalan yang dihalalkan sebagian besar
teman-temanku, hanya teman-temanku, bukan Bapak Ibuku bukan juga agamaku.
Sebenarnya, ada gumpalan dosa yang memberatkan hati beberapa kilo setelah aku melakukannya,
tapi aku yang tidak ingin kalah tetap melakukannya.
Alhamdulillaah, Allah
memang Maha Baik kepadaku, entah tepatnya tanggal berapa aku bertemu dengannya,
entah tepatnya hari apa, jam berapa, dan dimana pertama kali aku bertemu
dengannya. Mungkin di kelas. Ah, tidak, sepertinya di lapangan saat upacara
bendera. Aku lupa saat-saat bersejarah itu, namun aku tidak akan melupakan ia,
seseorang yang tulusnya luar biasa, yang kasih sayangnya tiada tara.
Bertemu dengannya, aku
banyak belajar , pelajaran hingga kini kupatri lekat-lekat dalam fikir dan
hati. Bukan tentang ilmu ekonomi, tentang macam-macam pasar, uang, atau bank –
karena dulu ia guru ekonomiku— yang aku memang tidak tertarik sejak awal. Bukan
tentang itu. Tapi tentang universitas kehidupan. Tentang berkata tidak. Tentang
akhlak. Tentang semangat. Tentang tanggung jawab. Tentang hari esok, esok yang
masih saaangaaaat panjang. Dan tentang jalan-jalan yang secara otomatis akan
dibentangkan bagi orang-orang yang bukan pecundang – mempecundangi dirinya
sendiri.
Ia sosok wanita, istri,
ibu, guru, saudara, sahabat, rekan kerja, pembelajar, pengajar, dan manusia
yang hebat, yang aku selalu cintai dan kami selalu cintai, yang akan aku selalu
ingat dan kami selalu ingat dalam perjalanan kehidupan yang entah seberapa
panjangnya ini. Ia yang akan selalu kami ridukan kehadirannya dalam setiap
jengkal langkah hidup kami. Selamat ulang tahun Ibu Amel, semoga senantiasa
bermanfaat bagi semuanya, menginspirasi semuanya… We LOVE You, Ibu…We LOVE You…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar